Makassar, anteronews.id  Belakangan ini kembali muncul perseteruan yang cukup meresahkan yaitu pernyataan kontropersial ketua BPIP bahwa “agama adalah musuh terbesar Pancasila”. Pernyataan kontropesial tersebut ditangkap dan dijadikan komoditas politik oleh kelompok-kelompok tertentu untuk kembali membenturkan agama dan pancasila. Belakangan ketua BPIP mengklarifikasi pernyataan kontropersial tersebut bahwa yang dimaksudkan musuh pancasila adalah mengkritik kelompok minoritas dalam agama tertentu yang mengaku mayoritas dimana selama ini mengkritik dan mendiskreditkan ideologi pancasila dengan berusaha memperjuangkan ideologi tertentu.

Kehadiran polri sebagai institusi negara tentu tidak akan tinggal diam dan tidak akan membiarkan sedikitpun ideologi negara terancam dengan upaya deskruktif yang dilakukan oleh kelompok-kelompok radikal. Mengutip pernyataan Kapolda Sul-sel bapak Irjen Pol Mas Guntur Laupe ketika seminar kebangsaan di Universitas Atma Jaya makassar pada tanggal 9/12/2019 beliau menyampaikan dan menegaskan dihadapan ratusan mahasiswa peserta seminar bahwa Pancasila adalah Ideologi final di tanah air Indonesia. Sehingga polisi siap melakukan pengamanan dan penindakan paham radikalisme baik secara preventif maupun penindakan dalam bentuk lain jika diperlukan.

Terlepas dari pro kontra tersebut, perlu dipahami mengenai keberadaan agama dan pancasila. Agama adalah sebuah institusi keyakinan yang menuntun para pemeluknya menuju kepada keselamatan dunia wal akhirah.

Pancasila adalah sebuah ideologi yang menjadi perekat atau pemersatu bangsa dan tanah air dari sabang sampai marauke. Pancasila bukanlah agama dan tidak akan mungkin menjadi agama, tetapi pancasila menjadi sebuah wadah dari nilai-nilai agama maupun nilai-nilai budaya yang dihimpun dan diimplementasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara serta diharapkan dapat membawa masyarakat dan bangsa Indonesia sesuai dengan apa yang terkandung di dalam sila-sila pancasila.

Seluruh agama di indonesia seperti Islam, kristen, hindu dan budha adalah modal bangsa yang menjadi salah satu sumber dalam mempekekayaan nilai-nilai pancasila. Oleh karena itu dalam konteks ke Indonesiaan pancasila tidak dapat terpisah dari agama dan agama apapun tidak dapat meronrong pancasila. Indonesia mustahil akan berdiri tegak tanpa kehadiran pancasila dan lahirnya pancasila karena adanya nilai-nilai agama dan budaya sebagai sumber inspirasi.

Sebagai orang yang beragama dan mempunyai integritas kebangsaan (keindonesiaan) yang cinta akan tanah air dan bangsanya, maka tidak ada lagi alasan untuk mempertentangkan agama dan pancasila, agama dan pancasila ibarat dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Inilah milik bangsa Indonesia yang terbukti sakti mempersatukan bangsa dan mampu mempertahankan kemerdekaan Indonesia sejak tanggal 17 Agustus 1945 hingga saat ini.
Seyogyanya seluruh komponen bangsa dan seluruh masyarakat Indonersia menyadari, bahwa sudah bukan saatnya lagi agama dan pancasila dibenturkan.

Disinilah pentingnya kembali membaca dan memahami sejarah perjalanan bangsa agar tidak tersesat membawa bangsa Indonesia dalam menelusuri lorong-lorong peradaban/zaman. Presiden Soekarno pernah menyampaikan sebuah pidato yang berapi api “JAS MERAH” Jangan pernah sekali-kali melupakan sejarah”. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya.

Tidak selayaknya agama dan pancasila diperalat untuk membangun politik kekuasaan dan tidak selayaknya kekuasaan bersikap semena-mena terhadap penganut beragama. Tidak boleh ada satu kekuatanpun dapat hidup dinegara ini yang mau mengkhianati pancasila dan tidak boleh ada satupun kekuatan berlaku semena-mena, mendiskriditkan ummat beragama apalagi mau menghancurkan agama.

Agama dan Pancasila adalah harga mati yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Yakin dan percaya bahwa jika setiap ummat beragama mengamalkan ajaran agamanya dengan baik otomatis menjadi masyarakat yang pancasilais**).

Oleh     : Ahmad Razak

Dosen Psikologi UNM Dan Da’i IMMIM