Makassar, antero.id – Ikatan Guru Indonesia (IGI) menilai POLRI telah menghina profesi guru akibat oknum polisi telah menggunduli tiga orang guru yang menjadi tersangka terkait kasus Sungai Sempor yang mengakibatkan hilangnya nyawa 10 pelajar SMP 1 Turi.

Hal yang dilakukan oknum polisi bisa jadi hanyalah sebuah reaksi spontan dalam memberikan tindakan terhadap tiga tersangka, tanpa bermaksud menghina profesi guru. Bagaimanapun juga peristiwa tersebut adalah suatu musibah yang harus disikapi secara arif dan bijaksana. Adalah selayaknya IGI tidak perlu mendeskriditkan institusi POLRI atas kejadian tersebut. Kita sangat berharap pernyataan keras yang dilontarkan IGI sebagai sebuah lembaga berhimpun bagi para guru hanyalah merupakan reaksi emosional sesaat atas kondisi yang terjadi.

Perilaku oknum polisi ini tidak dapat dijadikan dasar untuk menilai dan menjustifikasi polri menghina profesi guru. Sebagai referensi perbandingan ditempat lain mislanya, tepatnya di Kelurahan Katangka Polsek Somba Opu Polres Gowa provinsi sulawesi selatan, justru seorang polisi (Bripka M. Arfah) selaku Bhabinkamtibmas begitu mencintai profesi guru sehingga ia tidak segan-segan meluangkan waktunya untuk mendidik dan mengajarkan pendidikan agama dan bahasa Arab kepada anak-anak disekitar tempat tugasnya. Ini hanyalah satu contoh diantara beberapa kreatifitas yang dilakukan polisi.

Harus disadari bersama bahwa polri secara kelembagaan mengemban tugas yang mulia yaitu memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat; menegakkan hukum; dan memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat. Sebagaimana juga profesi guru memiliki tugas yang sangat mulia yaitu mendidik, membimbing, mencerdaskan dan mendewasakan anak-anak bangsa sebagai penerus generasi.
Kita sangat berharap bahwa peristiwa ini tidak sampai dijadikan alat untuk membenturkan dua institusi yang sangat mulia dinegara ini.

OLEH     : AHMAD RAZAK

DOSEN UNM DAN DA’I IMMIM