Maros – Pemilihan Ketua Asosiasi Pemerintahan Desa Seluruh Indonesia (APDESI) Kabupaten Maros, Sabtu, 22/8-2020 telah usai. Wahyu Febry, Kepala Desa Tenrigengkae, Kecamatan Mandai terpilih sebagai ketua Apdesi periode 2020-2025 .

Namun, terpilihnya Wahyu Febry sebagai Ketua APDESI Kab. Maros melahirkan wawasangka. Mirip lagu Iwan Fals dengan judul *”Antara Kau, Dia dan Bekas Pacarku,”* karena kuat diduga adanya kepentingan Politik. Mengintervensi para Kades–(kepala desa) menuju Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kabupaten Maros. Kita berharap, jangan gunakan APDESI untuk tujuan politik.

Andaikata Wahyu Febri berprestasi luar biasa, pengangkatannya sebagai Ketua APDESI tentu tidak memicu wasangka. Masalahnya, sejak menjabat Kepala Desa Tenrigengkae, Kecamatan Mandai, Kabupaten Maros, *prestasinya biasa-biasa saja, dan tidak ada yang waoh…!!!*

Sulit untuk tidak menghubungkan antara *”Pilihan dan Titipan”* kepadanya. Sebelum terpilih menjadi Ketua APDESI, nyaris 1/2 Desa di Kabupaten Maros, tidak mengetahui kalau Wahyu adalah Plt. (Pelaksana Tugas) sebagai Ketua APDESI.

Sepertinya ada kekuatan politik yang terselubung di dalam jabatan Plt. APDESI, hingga pada akhirnya Wahyu terpilih dengan hanya memperoleh suara 38 dari 80 desa dan rivalnya 36 suara. Dengan selisih 2 (dua) suara nyaris menggagalkan harapan para pendukung Wahyu untuk terpilih.

Diduga ada kekuatan “super power” mengutus dia dalam persiapan Pilkada di Kabupaten Maros yang mulai berseteru dan saling mencari celah. Manuver itu akhirnya memuluskan pencalonan Wahyu Febri, sebagai Ketua APDESI Kabupaten Maros, yang didukung pemangku Istana Maros tadi.

Kehadiran Wahyu pada pemilihan itu melenceng jauh dari fungsinya sebagai Plt. APDESI. Namun semua sudah terlanjur, kita lihat saja, semoga APDESI bisa menjadi asosiasi yang independen bersih dari kepentingan politik.

Karier Wahyu Febri yang moncer sulit dilepaskan dari kedekatan dia dengan sejumlah Tim sukses Balon Bupati dan Wakil Bupati Maros 2021-2026.

Secara politik, Pemangku kepentingan memang berkepentingan menempatkan orang kepercayaannya pada posisi strategis di APDESI. Namun pertimbangan politis seharusnya pemilihan Ketua APDESI tidak dilaksanakan atau dihentikan ataukah setelah Pilkada karena situasi politik Pilkada Maros yang mulai memanas. Adapun pengangkatan pejabat di bawah Ketua APDESI, semestinya berdasarkan prinsip meritokrasi, bukan berdasarkan telunjuk seperti makan di warung tunjuk tunjuk.

Promosi yang dipaksakan apalagi sarat kepentingan politik bisa memantik kegaduhan serta merusak profesionalitas para Kepala Desa.

Semestinya pemangku kepentingan di Kabupaten Maros, tak melibatkan Kepala Desa dalam kerja-kerja politik.

Kita berharap pemangku kepentingan jangan sekali-kali menyeret Camat dan Kepala Desa ke pusaran politik praktis untuk melindungi kepentingan partai politik, apalagi kepentingan pribadi. (ira)

 

Ditulis Oleh : A. Z A  Guntur, S E