Makassar, anteronews – Calon Walikota Makassar nomor urut 3, Dr Syamsu Rizal MI (Deng Ical), Sabtu, 17 Oktober 2020, mendapat giliran berkampanye di Kecamatan Tamalate. Dalam kesempatan ini, Deng Ical mengisi dengan pertemuan tatap muka di beberapa titik.

Dalam sosialisasi yang dihadiri warga dengan tetap menerapkan protokol kesehatan, Deng Ical memastikan, salah satu program 100 hari pemerintahan Deng Ical-Fadli Ananda (Dilan) jika diberi amanah memimpin Kota Makassar adalah reformasi birokrasi.
Pelaksanaannya, kata dia, harus dimulai dari Walikota dan Wakil Walikota. “Wali kota dan wakil wali kota itu bukan bos. Tapi pelayan masyarakat,” ujar Deng Ical.
Pola pikir bahwa pimpinan itu adalah bos harus dihilangkan. Yang ada, wali kota hingga jajaran terbawah itu adalah pelayan.
“Prinsip bahwa wali kota itu bukan bos harus bisa diterjemahkan hingga level pemerintahan terbawah. Semua harus memegang dan menjalankan standar pelayanan terbaik dan profesional bagi masyarakat,” jelasnya.

Dikatakan, salah satu contoh pelayanan bisa diadopsi adalah ketika berkunjung ke bank. Saat masih di pintu saja sudah dibukakan. Senyum, sapa dan salam juga tak pernah hilang.
“Itu karena bank memandang nasabah itu sebagai asset. Pemerintah juga harus memandang rakyat sebagai asset yang harus dijaga dan dilayani dengan baik,” urainya.

Deng Ical menegaskan, program 100 hari Dilan ada tiga (3). Selain reformasi birokrasi, juga ada unifikasi data dan peta drainase. Unifikasi data agar tidak ada lagi yang berhak mendapat bantuan tidak terdata, sementara peta drainase untuk memastikan semua drainase terkoneksi guna mengatasi banjir.

“Tiga (3) program 100 hari ini sama pentingnya dan akan dilaksanakan secara bersamaan begitu kami diberi amanah dan selesai dilantik. Kalau kita setuju dan merasa program ini sesuai kebutuhan masyarakat, pilih miki Deng Ical-Fadli Ananda pada 9 Desember 2020 di TPS ta masing-masing,” pungkasnya.

Laporan : Karca