oleh

Lapas Bulukumba Menerapkan Sistem Ini ke Warga Binaannya

MAKASSAR РBegitu banyak orang yang hidup di dunia dengan bermacam-macam sifat dan karakter, begitu pula cara bertahan masing-masing. Apakah cara yang ditempuhnya itu di jalan yang benar bahkan ada pula menggunakan pilihan hidupnya dengan cara yang bertentangan dengan ajaran agama hingga melanggar hukum, dengan alasan kerasnya mencari hidup menjadi salah pemicu seseorang mencari makan dengan jalur yang melanggar, hingga pada akhirnya berurusan dengan hukum.

Tentunya hal ini menjadi tantangan bagi mereka yang memiliki keresahan terhadap hal-hal yang membuat seorang yang di vonis salah atau melanggar hukum, utamanya mereka yang bekerja sebagai badan atau lembaga pembianaan masyarakat,  agar mereka bisa di bina menjadi lebih baik dan menjadi sadar dalam menjalani kehidupan mereka.

Salah satu contoh yakni seorang narapidana teroris yang sudah berpindah-pindah tempat yang selama ini mendekam di dalam bui yang belum menunjukkan perubahan yang baik, mulai dari Lapas Takalar, dipindahkan ke Lapas Barru, lalu ke Lapas 1 Makassar, hingga kini di Lapas Bulukumba.

Sejak dipindahkannya di Lapas Bulukumba dirinya barulah menunjukkan hal-hal baik, dan menurut Kepala Lapas Bulukumba Syaripuddin Nakku, saat dihubungi wartawan Anteronews.id melalui via telepon, Sabtu (16/1/2021) ia menjelaskan jika orang yang dimaksud sudah mulai menunjukkan hal-hal yang baik.

“Warga binaan kami ini dikabarkan sulit di atur, namun alhamdulillah selama berada di Lapas Bulukumba ini sudah menunjukkan hal yang baik, sebab sudah mau mencukur rambutnya yang gondrong, dan bisa mengikuti peraturan, dimana sebelum keberadaanya di lapas lain tidak pernah menurut jika disuruh potong rambut,” tambah Syaripuddin.

Ditanya bagaimana warga binaan di Lapas yang pimpinnya, hingga mau mentaati peraturan. Syaripuddin mengungkapkan jika di Lapas Bulukumba menerapkan sistem dengan menyentuh hati nurani warga binaannya.

“Jadi kami di sini menerapkan sistem dengan menyentuh hati nuraninya, sebab ada orang yang baru sadar kalau di tegur saat banyak orang, ada juga yang baru sadar jika di panggil ketemu empat mata, jadi perlu untuk memahami karakter dan watak seseorang, sebab membuatnya menjadi sadar bukanlah suatu hal yang mudah,” ucap Syaripuddin.

Ia menambahkan ” Perlu juga adanya kesadaran masing-masing agar segala perbuatan selama berada di lapas sini bisa mengontrol diri untuk tidak berbuat kesalahan, agar ada kerjasama antara pihak lapas dan warga binaan sehingga bisa menunjukkan penilaian yang positif di mata semua orang,” tandasnya.(*/randi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed